Belajar dari Kopi: Menunda Keyakinan dan Perjuampaan dengan ‘Yang Lain’
Wiwit Kurniawan, MA
“Seindah apa pun huruf terukir,
dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda?
Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?”
― Dee Lestari, Filosofi Kopi:
Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
Aku masih berstatus
sebagai mahasiswa S1 kala itu. Sejak
pertama melihatnya, baik tampilannya maupun namanya, aku langsung jatuh hati.
Filosofi Kopi; Kumpulan cerita dan prosa satu dekade. Sebuah kumpulan cerita
yang sederhana namun indah karangan Dewi Lestari atau Dee. Walaupun tipis dan bersahaja, aku tak mampu membelinya, hanya pinjam saja dari rak buku
sabahatku.
Cerita Filosofi Kopi berkisah dua
orang sabahat, Ben dan Jody yang mencoba dengan jatuh bangun mendirikan kedai
kopi milik mereka sendiri. Kedai kopi yang idealis. Setiap sajian kopi harus sesuai aturan dan takaran Ben,
sang maestro kopi. Ben telah berpetualang mengarungi benua biru. Ia masuk ke cafe-cafe dan dapur kopi segala penjuru Eropa hanya demi
mendapatkan secarik resep-resep kopi dari para barista terbaik.
Saat itu, ketika masih mahasiswa S1 aku memiliki
ketertarikan dan tafsir sendiri atas cerita filosofi kopi. Maklum saja, sebagai
aktivis mahasiswa, yang umumnya suka ngopi dan berkantong cekak, membaca Filosofi Kopi seperti menemukan oase diantara gersangnya naskah-naskah sastra serba romantis dan
agamis. Dulu pelatihan entrepreneur dan seminar-seminar
motivasi merebak dan membelokkan arah-gerak aktivis mahasiswa. Tidak mengherankan
jika saat itu aku memaknai Filosofi Kopi sebagai perjuangan seseorang dalam
membangun bisnis dan kesuksesan. Itu tafsir pertamaku.
Sekarang ini, seiring bertambahnya umur dan berbagai cerita kehidupan, aku memiliki tafsir yang berbeda. Di realitas sekelilingkita, aku
melihat ada permasalahan lain selain finansial. Selain karena uang, ada hal yang bisa membuat orang mati
dan rela mati. Masalah tersebut adalah "klaim kebenaran" dan merasa paling "tahu". Orang tidak segan merasa tahu dan mengklaim pengetahuan mereka sebagai satu-satunya "kebenaran".
Pemerintah menindas rakyatnya karena mereka merasa paling "tahu" apa yang terbaik bagi rakyatnya. Korporasi besar menggilas usaha kecil atas dalih efektivitas dan efisiensi. Semua penindasan itu tega dilakukan bukan karena keserakahan, namun atas nama "kebenaran".
Sekarang aku memiliki perspektif lain dalam
membaca filosofi kopi. Aku sadar bahwa Dee sama sekali tidak mengangkat rumus
jitu mengembangkan wirausaha. Justru sebaliknya, ia berusaha mengkritisi tafsir
tunggal atas kebenaran. Dia mencoba membongkar narasi besar kesuksesan yang diyakini
oleh kebanyakan orang. Dalam konteks Indonesia sekarang ini, di mana orang dan
golongan saling menyalahkan dan memiliki klaim kebenarannya sendiri,
pesan-pesan Dee sangat relevan untuk digali dan dikaji.
Dalam cerita yang mengalir
lembut, selembut serbuk kopi itu, Dee menggambarkan sosok Ben yang serba
perfeksionis dan tergila-gila dengan kopi. Di kedainya, Ben tidak hanya sebatas
peracik kopi, namun berbaur bersama pelanggan dan menikmati cangkir kopi bersama.
Ben melewati batas sebagai barista ketika ia melabeli kopi dengan filosofi dan tafsirnya sendiri. Pada tahap ini Ben seperti “sang diktator”. Ben merasa ialah sang barista pembuat kopi dan ia pula yang berhak
memiliki "tafsir" tunggal atas kopi tersebut. Ben berkata, “cappucino adalah kopi yang genit” dan “kopi tubruk itu lugu dan
sederna”. Dia membuat pegetahuan dan klaim kebenaran dengan menciptakan label-label tertentu atas kopi yang pelanggannya pesan.
Puncaknya terjadi ketika ada seorang pelanggan yang kaya dan sukses menantang Ben untuk membuat kopi terbaik. Ben menerima tantangan itu. Ia mengerahkan segala keahlian dan pengalamannya. Dengan perhitungan dan takaran yang presisi, Ben berhasil menciptakan sebuah mahakarya kopi yang sempurna. Ben’s perfecto namanya. Di sini klaim kebenaran dibuat. Kopi itu didaulat sebagai kopi yang paling
nikmat sedunia, pelangganpun sepakat. Tafsir tunggal atas puncak kenikmatan kopi lahir.
Tafsir tunggal atas kopi itu
terus bertahan, hingga suatu hari ada seorang pria paruh baya yang terlihat berasal
dari desa mampir ke kedainya dan memesan kopi Ben’s Perfecto. Disprupsi terjadi. Pria paruh baya
tersebut memiliki tafisr lain atas kopi yang sempurna. Pelanggan itu berkata, ada kopi lain yang lebih enak dari
ben’s perfecto, Kopi Tiwus namanya. Ben terguncang dan tidak percaya. Menurut keyakinannya, Ben's perfecto adalah kopi sempurna dan kopi sempurna adalah Ben's perfecto. Seperti relasi tanda dan penanda yang tanpa "jeda".
Dengan perasaan gundah campur
penasaran, Ben dan Jody mencari warung yang menyuguhkan kopi tiwus itu. Ia menutup kedainya dan berangkat dengan Jody ke desa-desa pedalaman di jawa Tengah. Ini demi mencari "Yang Lain" itu.
Setelah menelusuri jalan berliku dan mencari petunjuk dari para warga lokal, mereka menemukan gubuk kopi sederhana. Sebuah gubuk tua dari bambu dan jerami dan dinaungi pohon kopi dibelakangnya. Dari sinilah kopi tiwus berasal. Mereka mencoba kopi tiwus. Satu tegukan, dua tegukan, dan sampai akhir mereka menyadari bahwa
kopi itu tidak lain dari kopi biasa. Harganya sangat murah dan ada di mana-mana. Bagi Ben ini kopi biasa, sangat biasa malah. Namun kenapa orang lain mengatakan ini kopi paling enak? Kenapa ada yang bilang ini lebih enak dari Ben's perfecto?
Pemilik warung berkata “Banyak sekali
orang yang doyan kopi tiwus ini. Bapak sendiri ndak ngerti kenapa. Ada
yang bilang bikin seger, bikin tentrem, bikin sabar, bikin tenang,
bikin kangen... hahaha!!! Macem-macem!
Padahal kata bapak sih biasa-biasa saja rasanya, Mas.”
Sebetulnya momen pencerahan terjadi di sini. Setelah merasakan Kopi Tiwus, bukannya kecewa pada pelanggan itu atau kopi tiwus, Ben
malah kecewa pada dirinya sendiri. Dia menyadari sudah "sok tahu" dan gegabah melabeli bermacam-macam kopi. Padahal setiap orang memiliki tafsirnya sendiri ketika menyeruput cangkir kopi.
Mungkin Ben bisa saja mengatakan Ben's perfecto yang terbaik, namun setiap orang punya seleranya sendiri. Tidak ada tafsir tunggal akan kopi yang sempurna.
Ben berujar “aku sendiri terperangkap dalam
kesempurnaan palsu, artifisial! Aku malu kepada diriku sendiri, kepada semua
orang yang sudah kujejali dengan kegombalan Ben’s Perfecto”. Dalam perjuampaannya
dengan “Yang Lain”, ben sadar akan kesalahannya yang telah melabeli berbagai
kopi dengan tafsirnya sendiri, bahkan mengklaim ben’s perfecto adalah
satu-satunya kopi yang paling nikmat di dunia. Ben berpendapat bahwa walaupun
kopi tiwus adalah kopi biasa, namun kehebatannya adalah kopi itu mampu
menghasilkan reaksi bermacam-macam. Kopi tiwus telah menyadarkan Ben bahwa ia
adalah barista terburuk, jelas Dee dalam cerpenya.
Dari cerita yang dituturkan, Dee
dengan lugas dan cerdas mengkritik bagaimana seseorang dengan serampangan
melakukan klaim dan pelabelan sesuai kehendak hatinya. Dee menyuguhkan
bagaimana sosok barista melakukan klaim kebenaran bahwa kopinya lah yang paling
sempurna. Namun pada akhirnya, sang barista sadar, ia terlalu gegabah dengan
melakukan pelabelan atas berbagai kopi. Ia tidak mengijinkan reaksi dan sensasi
dari penikmat kopi yang lain untuk memberikan tafsirannya.
Dee mengajarkan barista terburuk
adalah barista yang mencoba membuat filosofi dari kopi lalu memperdagangkannya.
Dalam konteks masyarakat kita, kita akan banyak temui bagaimana orang-orang menyampaikan "pengetahuan" mereka meresa hanya merekalah si “perfecto”
itu, lalu menjualnya pada orang-orang yang galau
dan menghalau pendapat-pendapat yang berbeda. Apa yang dihasilkan
adalah merasa paling benar dan tidak mau menerima perbedaan.
Menurut Roland Barthes, pengarang (author) tidak memiliki otoritas (authority) atas karangannya. The death of the author. Dia hanya mengarang dan tugas pembacalah untuk menafsirkannya. Sebuah teks akan hidup jika terus ditafsiri oleh pembaca, karena disitulah ruh teks bersemayam.
Untuk melihat keagungan Tuhan
dalam segenap ciptaan-Nya kita bisa belajar dari kopi. Seperti kopi, walaupun menyuguhkan
citarasa manis, namun tidak lupa menghadirkan pahit. Rasa pahit ini memberi kita jeda
(différance)
untuk meminumnya. Menunda untuk menghakimi. Sebuah penundaan untuk
bisa melakukan refleksi.
Perjuampaan dengan “Yang Lain” adalah hal yang tidak bisa dihindari.
Dari perjuampaan itu, kiranya kita membuat "jeda" agar tidak terlalu
dini melakukan penerimaan maupun penolakkan. "Jeda" yang yang membuat kita berfikir
atas diri kita, mengorek jeroan kita. "Jeda" untuk menunda keyakinan kita. Maka,
ketika kita berhadapan dengan “Yang Lain”, kita tidak melulu menemukan beda, namun juga cinta.
Ketika kita mencinta, kitalah
yang berubah demi cinta, bukan menekuk dan membentuk apa yang kita cinta agar
sesuai dengan kita. Seperti Sajak Kecil tentang Cinta yang ditulis Sapardi
Jokodamono.
Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi
ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi
jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintaimu harus menjelma
aku.
Komentar
Posting Komentar